Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 September 2014
Agar dapat Bertahan Hidup Bayi ini Harus dibekukan Selama 72 Jam
Daniel dan Nicky Symmonds tidak sabar menunggu Natal. Apalagi di hari istimewa tersebut mereka akan menggendong sang buah hati. Tapi, harapan indah mereka harus berbayar cemas. Putra pertama mereka, Freddy Cooke, harus dibekukan selama 72 jam agar bisa terhindar dari kerusakan otak.

Peristiwa itu terjadi pada tanggal 20 Desember 2011 silam. Nicky tiba-tiba merasakan sakit perut yang amat sangat. Kontraksi tersebut baru dirasakan Nicky setelah lima hari berselang dari jadwal seharusnya. Sakit perut yang hebat itu membuat Nicky tidak mampu ke rumah sakit. Dia pun memanggil bidan. Dua bidan datang membantu Nicky melahirkan.
“Saya ingat betapa sakitnya sewaktu kontraksi terjadi. Tubuh saya seperti akan terbelah dua Sewaktu bidan datang saya hanya bisa mengerang kesakitan,” kata Nicky, seperti dilansir Daily Mail.
Tidak perlu waktu lama, hanya setengah jam, air ketuban Nicky pecah dan Freddy meluncur keluar. Tapi, si bayi tersangkut di tulang panggul atas sang ibu. Dilansir Mirror, tali pusat si bayi terputus dalam perut sang ibu, yang sekaligus menghentikan pasokan oksigen ke tubuh si bayi mungil. Ketika Freddy berhasil dilahirkan, tubuhnya dingin dan dia tidak bernafas.
“Ketika saya menyentuhnya dia sangat dingin. Tidak bergerak dan tidak bernafas. Saya begitu ketakutan,” kenang Nicky.
Bidan yang membantu Nicky melahirkan langsung menelepon ambulans dan Freddy langsung dilarikan ke Royal Berkshire Hospital. Di sana Freddy mendapat perawatan dan bisa bernafas 20 menit kemudian. Tapi, dokter yang merawat Freddy khawatir si bayi akan menderita kerusakan otak akibat kurangnya suplai oksigen saat dia dilahirkan.
Dokter pun menyarankan terapi es, dimana bayi berumur beberapa menit tersebut harus “dibekukan” untuk menyelamatkannya dari risiko kerusakan otak. Suhu normal bayi ketika lahir adalah 36-37°C, namun suhu tubuh Freddy diturunkan hingga 33°C agar bengkak pada otaknya bisa berkurang.
“Ketika saya mengunjungi Freddy di rumah sakit, dia sudah diletakkan di tempat tidur es yang akan mempertahankan suhu tubuhnya tetap di 33°C,” kata Nicky.
Di tempat tidur itu, Freddy dibalut selimut yang tersambung dengan selang berisi air es untuk mendinginkan tubuhnya. Tubuh kecil itu juga tersambung dengan berbagai kabel untuk mempertahankan hidupnya. “Saya melihatnya menggigil dan gemetar kedinginan. Saya tidak tega. Saya ingin memeluknya dan membuatnya hangat,” cerita Nicky.
72 jam kemudian, para dokter memutuskan untuk “mencairkan” Freddy dan memeriksa kondisi otaknya. “Kami diberitahu bahwa hal itu sangat kritis karena bisa jadi Freddy menderita kejang-kejang setelah dihangatkan,” kata Daniel, sang ayah.
Freddy dihangatkan secara perlahan selama 12 jam. Tidak berapa lama, dia kemudian bisa menggerakkan kaki dan tangannya. Hal yang merupakan kabar gembira bagi kedua orang tuanya, karena berarti tidak ada kerusakan di otak Freddy. “Dokter yang merawatnya tidak percaya, dia kekurangan oksigen selama 20 menit dan dia terbangun tanpa menderita suatu apapun,” kata Nicky.
Malam Natal adalah saat pertama Nicky dan Daniel bisa memeluk buah hati mereka. “Saya sangat terharu. Freddy menjadi hadiah Natal terbaik,” ungkap Nicky. “Dia terasa hangat dan jantungnya berdetak, padahal beberapa hari lalu, banyak kabel tersambung ke tubuhnya dan dia sangat dingin,” imbuhnya.
Sekarang, dua tahun telah berlalu dan Freddy tumbuh menjadi balita yang sehat. Bahkan, sejak kecil Freddy telah diajarkan untuk beramal. Tahun lalu, Nicky bersama Freddy, melakukan kampanye “Cool To Save A Life” guna menggalang dana bagi pengadaan mesin pendingin di rumah sakit.
“Saya ingat betapa sakitnya sewaktu kontraksi terjadi. Tubuh saya seperti akan terbelah dua Sewaktu bidan datang saya hanya bisa mengerang kesakitan,” kata Nicky, seperti dilansir Daily Mail.
Tidak perlu waktu lama, hanya setengah jam, air ketuban Nicky pecah dan Freddy meluncur keluar. Tapi, si bayi tersangkut di tulang panggul atas sang ibu. Dilansir Mirror, tali pusat si bayi terputus dalam perut sang ibu, yang sekaligus menghentikan pasokan oksigen ke tubuh si bayi mungil. Ketika Freddy berhasil dilahirkan, tubuhnya dingin dan dia tidak bernafas.
“Ketika saya menyentuhnya dia sangat dingin. Tidak bergerak dan tidak bernafas. Saya begitu ketakutan,” kenang Nicky.
Bidan yang membantu Nicky melahirkan langsung menelepon ambulans dan Freddy langsung dilarikan ke Royal Berkshire Hospital. Di sana Freddy mendapat perawatan dan bisa bernafas 20 menit kemudian. Tapi, dokter yang merawat Freddy khawatir si bayi akan menderita kerusakan otak akibat kurangnya suplai oksigen saat dia dilahirkan.
Dokter pun menyarankan terapi es, dimana bayi berumur beberapa menit tersebut harus “dibekukan” untuk menyelamatkannya dari risiko kerusakan otak. Suhu normal bayi ketika lahir adalah 36-37°C, namun suhu tubuh Freddy diturunkan hingga 33°C agar bengkak pada otaknya bisa berkurang.
“Ketika saya mengunjungi Freddy di rumah sakit, dia sudah diletakkan di tempat tidur es yang akan mempertahankan suhu tubuhnya tetap di 33°C,” kata Nicky.
Di tempat tidur itu, Freddy dibalut selimut yang tersambung dengan selang berisi air es untuk mendinginkan tubuhnya. Tubuh kecil itu juga tersambung dengan berbagai kabel untuk mempertahankan hidupnya. “Saya melihatnya menggigil dan gemetar kedinginan. Saya tidak tega. Saya ingin memeluknya dan membuatnya hangat,” cerita Nicky.
72 jam kemudian, para dokter memutuskan untuk “mencairkan” Freddy dan memeriksa kondisi otaknya. “Kami diberitahu bahwa hal itu sangat kritis karena bisa jadi Freddy menderita kejang-kejang setelah dihangatkan,” kata Daniel, sang ayah.
Freddy dihangatkan secara perlahan selama 12 jam. Tidak berapa lama, dia kemudian bisa menggerakkan kaki dan tangannya. Hal yang merupakan kabar gembira bagi kedua orang tuanya, karena berarti tidak ada kerusakan di otak Freddy. “Dokter yang merawatnya tidak percaya, dia kekurangan oksigen selama 20 menit dan dia terbangun tanpa menderita suatu apapun,” kata Nicky.
Malam Natal adalah saat pertama Nicky dan Daniel bisa memeluk buah hati mereka. “Saya sangat terharu. Freddy menjadi hadiah Natal terbaik,” ungkap Nicky. “Dia terasa hangat dan jantungnya berdetak, padahal beberapa hari lalu, banyak kabel tersambung ke tubuhnya dan dia sangat dingin,” imbuhnya.
Sekarang, dua tahun telah berlalu dan Freddy tumbuh menjadi balita yang sehat. Bahkan, sejak kecil Freddy telah diajarkan untuk beramal. Tahun lalu, Nicky bersama Freddy, melakukan kampanye “Cool To Save A Life” guna menggalang dana bagi pengadaan mesin pendingin di rumah sakit.
sumber
Selasa, 03 Desember 2013
10 Kota Berbiaya Hidup Tertinggi di Dunia
--Salam



Sumber:http://songkil.com/2011/07/14/10-kota-berbiaya-hidup-tertinggi-di-dunia/
Selengkapnya...
Tiga kota di Indonesia memang masuk dalam daftar kota dengan biaya hidup termahal di dunia dan 40 besar di Asia. Namun, biaya hidup di ketiga kota itu masih jauh lebih murah jika dibandingkan kota-kota yang masuk dalam peringkat 10 besar kota termahal di jagat raya.
Seperti dikutip VIVAnews.com dari laman money.cnn.com, Kamis, 16 Juni 2011, konsultan sumber daya manusia internasional, ECA International, telah mensurvei setidaknya 400 kota di dunia, yang terdapat pegawai ekspatriat asal beberapa negara yang bekerja di wilayah tersebut.
Survei dibuat berdasarkan pengeluaran ekspatriat dalam mata uang dolar AS untuk pembelian bahan makanan, pakaian, dan perlengkapan elektronik.
Beberapa dari kota termahal di dunia yang masuk dalam daftar ini, sebenarnya di luar perkiraan sejumlah kalangan. Faktanya, kenaikan nilai tukar memegang peranan penting pada pemeringkatan kali ini.
Kondisi tersebut menyebabkan beberapa kota yang masuk dalam peringkat termahal di dunia ini bisa masuk dalam daftar itu.
1. Tokyo, JepangTokyo, Jepang
Tokyo merupakan kota termahal di dunia saat ini. Buktinya, untuk menonton film di bioskop, penonton harus merogoh kocek hingga US$24 (Rp216 ribu) dan rata-rata tarif taksi sebesar US$8 (Rp64 ribu).
Sebagai pusat keuangan dunia, Tokyo menjadi markas bagi berbagai perusahaan investasi dan asuransi dunia.
Kota ini juga mendapat anugerah sebagai kota paling hijau di sejagat bumi. Alasannya, kendati memiliki populasi penduduk hingga 8 juta orang, tingkat gas buang karbonmonoksida di Tokyo merupakan yang terendah di kawasan Asia Pasifik.
Tokyo juga mendapat penghargaan dari masyarakat dunia karena memiliki kebijakan transportasi paling komprehensif. Saat ini, seluruh angkutan taksi di Tokyo sudah dikonversi menggunakan kendaraan listrik.
2. Oslo, NorwegiaOslo, Norwegia
Oslo merupakan kota yang berada pada peringkat kedua kota paling mahal di dunia selama lima tahun berturut-turut. Prestasi ini tidak terlepas dari kuatnya mata uang Norwegia, kroner, yang terapresiasi terhadap dolar AS sebesar 16 persen tahun lalu.
Penyebab lain adalah kuatnya perekonomian Norwegia terhadap dampak dari krisis keuangan dunia.
Oslo sebagai pusat perdagangan Norwegia merupakan rumah bagi industri perkapalan dunia, broker kapal, dan perusahaan asuransi maritim.
Kota ini juga mencuat namanya sebagai kota dengan sistem transportasi yang efisien dan luas, dengan sistem angkutan yang ramah lingkungan. Tingkat efisiensi ini terlihat dari harga tiket, walaupun harganya mencapai US$5,6 atau Rp50.400 untuk satu kali perjalanan.
3. Nagoya, JepangNagoya, Jepang
Terkenal sebagai kota paling dinamis di Jepang, Nagoya terletak 165 mil dari Tokyo. Inilah kota yang menjadi pusat bagi industri manufaktur Jepang dan berkontribusi besar pada produksi komponen dari otomotif dan pesawat terbang.
Sejumlah produsen otomotif Jepang memilik kantor pusat di Nagoya, termasuk Toyota dan Honda. Beruntung, gempa bumi dan tsunami yang menyapu Jepang beberapa waktu lalu tidak terlalu memberikan dampak bagi wilayah ini.
4. Stavanger, Norwegia
Stavanger, Norwegia
Penemuan ladang minyak di laut utara pada 1960 mengubah Stravanger dari kota aneh menjadi pusat minyak Norwegia. Tercatat lebih dari 50 perusahaan energi memiliki kantor pusat di kota ini. Hal itu membuat Stavanger menjadi rumah bagi ratusan ekspatriat yang bergerak di bidang minyak dan gas.
Di saat perekonomian yang melambat seperti sekarang, kekayaan minyak yang dimiliki Norwegia membuat pemerintah masih bisa menjaga pertumbuhan ekonomi dengan berbagai program stimulus mewah. Norwegia selama ini terkenal dengan sistem kesejahteraannya yang sangat murah hati, misalnya sekolah gratis dengan kualitas pendidikan terbaik.
Hal lain yang membuat Stravanger masuk dalam daftar ini adalah harga bahan pangan dan transportasi. Harga makanan di Norwegia naik 50 persen dibandingkan wilayah Eropa lainnya. Produk seperti daging, gula, dan sereal merupakan bahan makanan yang paling mahal di kota ini.
5. Yokohama, Jepang
Yokohama, Jepang
Kota terbesar kedua Jepang ini merupakan pusat komersial untuk Kawasan Megapolitan Tokyo (Greater Tokyo Area).
Pusat kota ini memiliki basis ekonomi yang kuat dengan dukungan industri yang bergerak di bidang bioteknologi, semikonduktor, dan perkapalan. Produsen mobil seperti Nissan dan perusahaan semikonduktor Fujitsu telah mengalihkan kantor pusatnya ke wilayah ini.
Yokohama juga merupakan pusat kota yang memiliki nilai artistik. Pada tahun ini, Yokohama akan menggelar festival seni mulai dari Agustus hingga Desember dengan menampilkan sejumlah artis.
6. Zurich, Swiss.
Zurich, Swiss
Kendati menerapkan pajak rendah, kota terbesar Swiss ini menduduki peringkat ke-6 sebagai kota termahal di dunia untuk para ekspatriat. Alasan utamanya adalah penguatan nilai tukar Swiss Franc hingga 27 persen terhadap dolar AS pada tahun lalu.
Zurich selama ini menjadi pusat bisnis bagi beberapa institusi keuangan dunia seperti Credit Suisse, Julius Baer, dan UBS. Sebagai kota penghubung keuangan Eropa, Zurich juga terkenal sebagai kota tempat berdirinya perusahaan jam dan pembuat cokelat seperti Lindt & Sprüngli.
7. Luanda, Angola.
Luanda, Angola
Sebagai Ibukota Angola, Luanda saat ini menjadi tempat beroperasinya sejumlah perusahaan multinasional besar yang mencari sumber-sumber energi. Negara ini juga kaya sumber daya alam seperti kopi, pangan, berlian, gula, besi, dan garam.
Namun, perang saudara yang berlangsung hampir tiga dekade, telah menyebabkan infrastruktur Luanda luluh lantak, sehingga mendorong harga-harga kebutuhan pokok dan jasa melonjak tinggi.
Untuk jasa mulai dari potong rambut, keanggotaan tempat kebugaran, hingga makanan cepat saji kini tidak ada lagi yang murah di kota ini. Untuk satu tahun keanggotaan tempat kebugaran kini bernilai US$2.500 atau setara Rp22,5 juta. Sementara itu, jasa potong rambut seharga US$150 atau Rp1,35 juta.
8. Jenewa, Swiss.
Jenewa, Swiss
Jenewa selama ini terkenal sebagai pusat diplomasi dunia. Kota ini menjadi tempat untuk beberapa kantor organisasi PBB, seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Palang Merah Internasional (Red Cross), dan pusat dari Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum).
Satu per empat dari bagian kota ini khusus dialokasikan untuk sarana publik, dan hal ini membuat sejumlah ekspatriat asal AS sangat ingin pindah ke kota ini. Jenewa juga menjadi salah satu tempat terkenal untuk kuliner atau biasa disebut haute cuisien.
9. Kobe, Jepang.
Kobe, Jepang
Kobe merupakan salah kota pelabuhan tersibuk di Jepang. Kota ini juga merupakan pusat daging terkenal di dunia.
Walaupun Jepang menjadi satu-satunya negara di Asia yang tercatat mengalami penurunan harga dalam survei oleh ECA, tingkat biaya hidup negara itu paling mahal bagi pekerja yang bertransaksi menggunakan dolar AS.
Hal ini akibat dari tingginya apresiasi yen terhadap dolar AS selama enam bulan terakhir, di samping harga-harga kebutuhan pokok dan jasa yang memang sudah tinggi.
10. Bern, Swiss.
Bern, Swiss
Sebagai ibukota negara, Bern merupakan rumah untuk beberapa perusahaan terkenal Swiss seperti Rolex, Toblerone, Swisscom, dan The Swatch Group. Kota ini juga menjadi lokasi kantor dari perusahaan asing, terutama AS, seperti eBay, Cisco, dan Ingram Micro.
Bern selama ini terkenal sebagai daerah dengan pajak terendah dan undang-undang ketenagakerjaan yang liberal. Lebih dari itu, kota ini juga ditetapkan sebagai cagar budaya dunia yang dilindungi oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Unesco.
Kota ini juga memiliki beragam sejarah dan merupakan kota tempat tinggal salah satu tokoh dunia, Albert Einstein antara 1903 hingga 1905, dan menjadi tempat peletakan pertama teori relativitas.
Langganan:
Postingan (Atom)